Ketika :( menjadi :)
Aku tak pernah tau rencana Tuhan mempertemukan aku dan dia. Entah untuk
membuatku bahagia, atau menjadikan aku dewasa dengan semua narasinya. Bermula dari rasa sedih berkepanjangan atas cinta yang lalu. Cinta yang sudah tiga tahun terjalin, kemudian harus kandas karena sebuah kata yang bernama "restu". Yaps...kenapa harus setelah tiga tahun?? Entahlah. Kesedihan, air mata dan kesia-siaan. Itulah yang menjadi benang kusut dalam otak yang tak kunjung terurai.
Waktu berlanjut dan tak pernah sedikitpun mau menunggu. Kemudian, satu persatu, tanya menjadi jawab. Pelan tapi pasti, aku menemukan sebuah jawaban yang aku sendiri tak mampu menarasikannya. Entah jawaban apa yang aku temukan, tapi rasanya semua problematik di otak menjadi berkurang, berkurang dan berkurang.Aku menemukan cerita baru dalam hidup. Cerita yang membuat sebagaian bersedih dan sebahagaian yang lain tertawa senang. Aku tetap bergelut dengan semua kisah itu. Hingga akhirnya aku mampu menjelaskan, kalau aku telah terbuai dengan cerita itu.
Orang baru dan komitemen baru. Itulah yang aku coba menjalaninya secara perlahan. Lebih tepatnya "mencoba" menjalani. Penyesuaian karakter, penyesuaian pendapat dan hal lainnya yang secara perlahan ku jalani. Dan sampailah pada dua titik pikiran. Pertama, apakah aku telah berubah karena dia? Kedua, apakah perubahan aku merugikan aku atau sebagai bentuk pendewasaan? Dua kalimat itu menyanyi di benakku.
Aku takut, jiwa ini menjadi asing. Aku coba, aku pikir dan aku rasakan lagi, apakah aku benar-benar menjadi asing? ternyata tidak, hanya saja aku memang pengen berubah. Karena belajar dari kisah lalu, aku adalah seorang perempuan yang teramat egois dan sedikitpun tak mau kalah. Karena itu, aku berusaha pelan-pelan merubah sifat itu dan berujung aku mulai menuruti hal-hal yang rasanya tak sedikitpun merugikan aku.
Aku mulai nyaman dan mulai terbiasa dengan komitmen baru itu. Rasa sedih mulai menjadi senyuman manis. Walaupun sampai sekarang, aku masih tak mampu melupakan kisah lalu. Kisah yang sangat manis bersama orang terbaik dihidupku. Tiga tahun itu, tetap abadi...minimal di buku harianku.
Komentar
Posting Komentar