“Anak Gembala yang Tumbuh Jadi Perempuan Kuat”


Di antara embun pagi dan kabut di ladang,
seorang anak kecil berjalan tanpa lelah,
di tangannya seikat rumput kering untuk ternak,
di hatinya tersimpan mimpi yang tak kalah megah.

Ia gembala kambing di bawah mentari,
penjaga bebek di tepian kali,
kadang pedagang kecil di pinggir jalan sepi,
kadang pencari daun pakan, sambil menghafal pelajaran di hati.

Tangannya kasar, tapi hatinya lembut,
langkahnya kecil, tapi tekadnya teguh,
setiap keringat yang jatuh di tanah yang kering,
menyuburkan mimpi yang tak pernah ia biarkan hilang.

Ketika teman-teman bermain riang,
ia menatap buku dengan lampu redup di malam panjang,
karena ia tahu, ilmu adalah jalan terang,
yang kelak menuntunnya keluar dari segala kekurangan.

Kini, ia berdiri tegak di hadapan dunia,
bukan lagi anak gembala, bukan lagi penjual sederhana,
tapi perempuan mandiri, berhati baja,
yang ditempa oleh masa kecil penuh kerja dan doa.

Ia tersenyum pada masa lalu yang keras,
karena di sanalah ia belajar arti tegas,
bahwa perjuangan bukan beban,
melainkan akar yang membuatnya bertahan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas balik tentang KaJAI

Muak!!

Cerita di Penghujung 2017