“Ketika Kepercayaan Jadi Luka”


Dulu aku percaya, bahwa tidak semua orang datang untuk melukai.
Aku percaya, ada orang yang bisa jadi rumah, tempat berbagi cerita, tempat menaruh lelah tanpa takut dihakimi.
Dan aku menganggap dia seperti saudara sendiri.

Kami tertawa, saling membantu, berbagi rahasia kecil tentang hidup, tentang luka, tentang orang-orang yang pernah mengecewakan kami. Aku pikir, kami berjalan di arah yang sama, saling memahami. Tapi ternyata, tidak semua orang bisa menafsirkan ketulusan dengan cara yang benar.

Semakin lama, aku mulai mendengar bisikan-bisikan aneh dari sekitar, kalimat yang pernah keluar dari mulutku, tapi bukan aku yang mengucapkannya lagi.
Cerita yang dulu kuberikan dengan jujur, kini jadi bahan nyinyiran.
Sikapku, yang dulu dianggap baik, kini disebut “sok benar”.
Tawaku, yang dulu mereka bilang tulus, kini katanya “berlebihan”.

Dan yang paling menyakitkan, dia...
dia malah bertingkah seolah akulah yang salah.
Seolah aku yang menuduh tanpa dasar, seolah aku yang merusak hubungan kami.
Dia pandai memainkan peran korban , menangis di depan orang lain, bercerita bagaimana aku “berubah”.
Padahal dia lupa... perubahan itu bukan tanpa sebab.

Aku hanya muak.
Muak melihat seseorang yang dulu kupeluk erat, kini menjatuhkanku pelan-pelan di belakang layar.
Muak melihat bagaimana kejujuran disamakan dengan drama, dan kebaikan dianggap pura-pura.
Aku tidak ingin balas dendam, hanya ingin jauh.
Karena kadang, menjauh adalah satu-satunya cara untuk tetap waras.

Kini aku belajar:
Tidak semua orang pantas tahu isi hati.
Tidak semua tawa datang dari niat baik.
Dan tidak semua yang kita anggap saudara, akan memperlakukan kita seperti keluarga.

Aku sudah selesai mencoba menjelaskan.
Karena bagi orang yang senang memainkan peran korban,
kebenaran hanya akan jadi cerita yang mereka ubah sesuai selera.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas balik tentang KaJAI

Muak!!

Cerita di Penghujung 2017