Cinta Sederhana

Tiba-tiba aja ingin ngeblokkan, cerpen yang dulu pernah aku ikutkan dalam lomba menulis...entah siapa penyelenggaranya. Untuk nama dan tempat adalah "rekayasa penulis". semoga dari kisah ini, ada yang bisa dijadikan pelajaran dalam kehidupan.
...selamat menikmati...

Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, hari janjian kami yang ketiga kalinya. Dan untuk ketiga kalinya pula Erick lupa. Janjian pertama,Dia  lupa datang kerumah karena harus ikut rapat untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan kantor. Sebagai perwakilan kantor, Erick memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Janjian kedua, Dia harus keluar kota untuk melakukan presentasi,hingga batalin janjian kita tuk ketemuan. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang hari.Hari itu kan bisa diganti dilain waktu.

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku masih tertidur. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang janjinya dia untuk menelfon di malam minggu. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat kalo ada janji ma kekasih sendiri? Aku mendengus kesal. Dia memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku jadian dengannya atau bahkan sekadar sms sayang.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku tidak lupa mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Dia, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Dia jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam beberapa bulan terakhir.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami  dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini jadual kegiatanku kosong. Aku ingin on_R dengannya hari ini dan membicarakan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Erick . Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai komitmen yang mantap. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

Minggu-minggu pertama setelah hari jadi kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya sepasang kekasih baru, Erick berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat dia dipindahkan kerja kebagian yang lebih rumit. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku nelfon ke rumah ibu. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian pacarku.

”Kenapa Re? Ada masalah dengan Erick?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengiyakan. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. ”Re, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap pacarmu. Cobalah, Re pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Erick? Ia kekasih yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Erick itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua laki-laki seperti dia,Re. Banyak orang yang gak dihormati pacarnya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak janjian sama-sama aku di lupakan. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan pacarnya bu. Bukan cuma bagian dari perabot yang hanya perlu dipeduliin sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Erick? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Dia tidak pernah meladeni ajakan Rosi yang tidak juga bosan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Re,kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Erick yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku mendengarkan Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Tien, salah seorang sahabatku yang stres karena pacarnya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin ditelfon dia. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera mengakhiri pembicaraan dengan ibu.

Jam tujuh malam, Erick belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam,dia nelfon sebentar. “Maaf aku terlambat pulang, tugasku belum selesai”. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Ada sms dari dia

Kuambil hp dan kubuka smsnya. Sebait puisi dan  setangkai gambar mawar membuatku tersenyum.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Lewat kata yang tak sempat disampaikan

Awan kepada air yang menjadikannya tiada

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

Dengan kata yang tak sempat diucapkan

Kayu kepada api yang menjadikannya abu.
(by: Kahlil Gibran)



For Rere






Komentar

  1. ah..puici cintanya Kahlil Gibran ini memang paling andalan sudah..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas balik tentang KaJAI

Muak!!

Cerita di Penghujung 2017